<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ragam Budaya Indonesia - Artikel Kebudayaan Indonesia - Seni Budaya Indonesia &#187; Karya</title>
	<atom:link href="/category/karya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.palingindonesia.com</link>
	<description>Ragam Budaya Indonesia - Artikel Kebudayaan Indonesia - Seni Budaya Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Dec 2012 07:43:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Tangkitn Senjata Dayak Salako</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/tangkitn-senjata-dayak-salako/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/tangkitn-senjata-dayak-salako/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Dec 2012 09:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>andreas aan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=6700</guid>
		<description><![CDATA[Tangkitn merupakan parang sub suku dayak Salako (sub suku dayak yang berdiam di sebelah Utara Provinsi Kal-bar, dan di Lundu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tangkitn merupakan parang sub suku dayak Salako (sub suku dayak yang berdiam di sebelah Utara Provinsi Kal-bar, dan di Lundu Malaysia), yang menyerupai Mandau, namun perbedaannya terletak pada gagang dimana Mandau memiliki gagang yang terbuat dari kayu ataupun dari tulang maupun tanduk binatang, sedangkan tangkitn gagangnya cukup dililit dengan kain merah dan digantung aksesoris berupa samoop (batu manik yang memiliki lubang ditengahnya) dan rambe yang menyerupai untaian-untain benang seperti rambut.</p>
<p>Berbeda dengan Mandau yang dihiasi dengan rambut hasil dari mengayo. Selain itu parang tangkitn tidak memiliki sarung/biado karena pada penggunaannya dimusim bakayo (headhunting) orang-orang dayak salako hanya menunggu musuh datang kekampung mereka jadi tidak melakukan penyerangan sehingga orang-orang dayak tersebut hanya berdiri siaga dengan memikul tangkitn pada bahunya untuk menunggu musuh datang dan siap menebas kepala musuh.<br />
Tangkitn adalah sejenis parang yang hanya digunakan khusus untuk bakayo (headhunting) dan keberadaannya dipercaya lebih tua dari pada mandau. Selain itu biasa juga digunakan dalam upacara-upacara ritual lainnya seperti upacara pengobatan yaitu baliatn (baiotn), badukun/balenggang. Sedangkan parang yang digunakan untuk sehari-hari atau pertanian oleh sub suku dayak salako adalah isok (parang yang memilki gagang) Tangkitn tidak diasah dengan batu asah pada umumnya tapi cukup dilumuri dengan jeruk nipis pada mata tangkitn untuk membuat tajam mata tangkitn tersebut, Tangkit memiliki goresan-goresan disekitar pangkalnya yang menandakan jumlah keturunan keberapa yang memegangnya berdasarkan jumlah goresan yang pada tangkitn tersebut.</p>
<p>Didalam tangkitn biasanya juga ditanam kuningan atau tembaga dan yang lebih sakral lagi ditanam besi kuning yang dipercaya menambah kekuatan magis dalam tangkit tersebut dan selain itu besi kuning yang ditanamkan pada tangkitn berdampak kebal senjata tajam pada si pemegangnya/empunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/tangkitn-senjata-dayak-salako/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kentongan Alat Jadul Pemersatu Masyarakat</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/kentongan-alat-jadul-pemersatu-masyarakat/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/kentongan-alat-jadul-pemersatu-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2012 07:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=6597</guid>
		<description><![CDATA[Alat yang satu ini walau jadul namun masih tetap bertahan dan familiar bagi masyarakat Indonesia. Sebelum hadirnya alat komunikasi pemanggil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alat yang satu ini walau jadul namun masih tetap bertahan dan familiar bagi masyarakat Indonesia. Sebelum hadirnya alat komunikasi pemanggil massa/masyarakat yang modern hadir, kentongan menjadi bagian terpenting dimasyarakat. Kentongan selalu ada digardu dan poskamling warga.</p>
<p>Kentongan sangat multi fungsi, selain sebagai panggilan jika ada maling, bencana kebakaran, alat tradisional ini juga menjadi alat pemanggil berkumpul dalam mengajak masyarakat bergotong royong dan mengikuti pertemuan di dilokasi tertentu.<br />
Mengenla kentongan ternyata memiliki sejarah panjang. Kentongan ternyata memiliki fungsi social dan religi. Sejarah budaya kentongan sebenarnya dimulai sebenarnya berasal dari legenda Cheng Ho dari Cina yang mengadakan perjalanan dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentongan ini sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Penemuan kentongan tersebut dibawa ke China, Korea, dan Jepang. Kentongan sudah ditemukan sejak awal masehi.</p>
<p>Sedang di Indonesia tentunya memiliki sejarah penemuan yang berbeda dengan nilai sejarahnya yang tinggi. Di Nusa Tenggara Barat, kentongan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX menggunakannya untuk mengumpulkan massa. Di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga.</p>
<p><strong>Manfaat Kentongan</strong></p>
<p>Awalnya, kentongan digunakan sebagai alat pendamping ronda untuk memberitahukan adanya pencuri atau bencana alam.Dalam masyarakat pedalaman, kentongan seringkali digunakan ketika suro-suro kecil atau sebagai pemanggil masyarakat untuk ke masjid bila jam salat telah tiba Namun, kentongan yang dikenal sebagai teknologi tradisional ini telah mengalami transformasi fungsi Dalam masyarakat modern, kentongan dijadikan sebagai salah satu alat yang efektif untuk mencegah demam berdarah. Dengan kentongan, monitoring terhadap pemberantasan sarang nyamuk pun dilakukan Dalam masyarakat tani, seringkali menggunakan kentongan sebagai alat untuk mengusir yang merusak tanaman dan padi warga.[</p>
<p><strong>Kelebihan Kentongan</strong></p>
<p>Kentongan dengan bahan pembuatan dan ukurannya yang khas dapat dijadikan barang koleksi peninggalan masa lalu yang dapat dipelihara untuk meningkatkan pemasukan negara. Kentongan dengan bunyi yang khas dan permainan yang khas menjadi sumber penanada tertentu bagi masyarakat sekitar. Selain itu, kentongan merupakan peninggalan asli bangsa Indonesia dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Perawatannya juga sederhana, tanpa memerlukan tindakan-tindakan khusus</p>
<p><strong>Kelemahan Kentongan</strong></p>
<p>Kentongan masih banyak kita temui dalam masyarakat modern, namun fungsi kentongan sebagai alat komunikasi tradisional memiliki sejumlah kekurangan yang menyebabkan tergesernya kentongan tersebut dengan teknologi modern. Kegunaan kentongan yang sederhana dan jangkauan suara yang sempit menyebabkan kentongan tidak menjadi alat komunikasi utama dalam dunia modern ini.<br />
Walaupun moderenisasi sudah menggeser pemakain kentongan dengan alat-alat canggih lainnya, namun kentongan belum mampu tergantikan di dusun-dusun yang masih menjadikan alat ini sebagai sarana pemanggil dan pemersatu masyarakat yang efektif.</p>
<p>photo courtesy of: www.puripurboyo.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/kentongan-alat-jadul-pemersatu-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Cethe”, Seni Melukis Unik dengan Bubuk Kopi</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/%e2%80%9ccethe%e2%80%9d-seni-melukis-unik-dengan-bubuk-kopi/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/%e2%80%9ccethe%e2%80%9d-seni-melukis-unik-dengan-bubuk-kopi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Oct 2012 07:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=6445</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Satu lagi sebuah tradisi khas yang dimiliki Indonesia dan sepertinya hanya negeri kita yang mempunyai kebiasaan unik ini. Sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Satu lagi sebuah tradisi khas yang dimiliki Indonesia dan sepertinya hanya negeri kita yang mempunyai kebiasaan unik ini. Sebuah tradisi yang kerap mudah dijumpai di Jawa Timur, terutama Kabupaten Tulungagung. Tradisi itu bernama seni Cethe, yakni sebuah kebiasaan unik masyarakat yang memiliki ciri khas tersendiri dengan melukis menggunakan media bubuk kopi serta media penuangannya dilakukan diatas kertas rokok.</p>
<p>Tidak semua orang memiliki keahlian dalam bermain Cethe, apalagi mengingat media yang digunakan sangat sulit. Kertas pada batangan rokok yang tergolong tipis dan halus menjadi tantangan tersendiri bagi para pecinta Cethe. Begitupula bubuk kopi yang digunakan tidak sembarangan, pengolahannya perlu tangan-tangan khusus untuk menghasilkan bubuk yang sangat super halus dan kental.</p>
<p>Kabupaten Tulungagung sebagai sentral kopi khas, memberikan banyak sajian bubuk kopi yang bisa dijadikan untuk bahan bermain Cethe. Masyarakat Tulungagung menyebut bubuk kopi ini dengan sebutan “wedang kopi cethe”, sebuah ekspresi nama yang memang ditujukan untuk bermain Cethe. Biasanya para pengolah kopi ini mencapurkan banyak bahan-bahan tertentu yang tentunya menjadi rahasia para pemilik kedai kopi. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan kopi ijo atau kopi hijau, bubuk kopi ini memang sangat halus dan sedikit berwarna hijau.</p>
<p><a href="/%e2%80%9ccethe%e2%80%9d-seni-melukis-unik-dengan-bubuk-kopi/c1/" rel="attachment wp-att-6447"><img class="aligncenter size-medium wp-image-6447" src="/wp-content/uploads/2012/10/C1-300x207.jpg" alt="" width="300" height="207" /></a></p>
<p>Kegiatan Nyethe (sebutan untuk melukis bubukk kopi diatas kertas rokok) bervariasi caranya, salah satunya yakni dengan mengendapkan dahulu kopi yang sudah dibuat didalam gelas atau cangkir kecil sampai benar-benar mengendap ampasnya.  Air kopi yang ada pada gelas tersebut sedikit demi sedikit dituang ke tempat lainnya dengan tujuan untuk mendapatkan endapan ampas kopi yang sempurna (halus dan banyak). Bahkan ada yang sampai melakukan dengan cara mengendapkan air kopi menggunakan kertas atau tisu, sehingga hasil endapan bisa didapatkan dengan baik.</p>
<p>Setelah endapan terkumpul, para pecinta Cethe melukiskan endapan tersebut dengan bantuan batang korek api kayu, atau dengan tusuk gigi. Bahan yang runcing dan halus memang dibutuhkan untuk mendapatkan goresan yang bagus. Endapan yang sudah diambil dengan batang tusuk gigi tersebut dioleskan atau dilukis diatas media kertas pada batang rokok, disinilah seni lukis Cethe mulai dilakukan. Lukisan yang dibuat kerap berbentuk semacam motig batik, tulisan, bahkan sampai bentuk realis wajah. Sungguh tradisi yang benar-benar unik dan butuh keahlian. Karena media yang digunakan kecil dan halus, bertindak kasar sedikit akan merobek kertas media Cethe.</p>
<p><a href="/%e2%80%9ccethe%e2%80%9d-seni-melukis-unik-dengan-bubuk-kopi/rokok/" rel="attachment wp-att-6448"><img class="aligncenter size-medium wp-image-6448" src="/wp-content/uploads/2012/10/rokok-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Jika pelukis Cethe sudah membuat gambar yang dihasilkan, kemudian lukisan itu dikeringkan dahulu sampai benar-benar kering dalam artian tidak ada sisa air pada endapan bubuk kopi tersebut. Wah,sungguh rumit dan butuh ketelatenan yang tinggi demi mendapat hasil maksimal. Tradisi ini sangat mudah dijumpai di Tulungagung, bahkan beberapa waktu sempat diadakan pulan festival Nyethe, atau perlombaan untuk mencari hasil Cethe terbagus. Bagaimana, Anda tertarik untuk melakukan kegiatan Nyethe? Tradisi negeri Kita memang terkenal unik dan beragam, kelestarian adat budaya masyarakat yang khas menjadikan Indonesia sebagai Negara beribu-ribu budaya. Kekayaan ini bernilai mahal, dan masyarakat Indonesia sendiri yang perlu menjaga dan melestarikannya. Semoga jaya selalu Indonesiaku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/%e2%80%9ccethe%e2%80%9d-seni-melukis-unik-dengan-bubuk-kopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mamanda Perlu Inovasi  Agar Tetap Bertahan</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/mamanda-perlu-inovasi-agar-tetap-bertahan/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/mamanda-perlu-inovasi-agar-tetap-bertahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2012 02:53:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=6211</guid>
		<description><![CDATA[Jika Jawa punya wayang, ludruk, ketoprak dan betawi punya kesenian lenong, Kalimantan punya Mamanda. Mamanda adalah seni teater atau pementasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika Jawa punya wayang, ludruk, ketoprak dan betawi punya kesenian lenong, Kalimantan punya Mamanda. Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.</p>
<p>Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).</p>
<p>Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap Pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita.</p>
<p>Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamandaoleh Sang Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata &#8220;mama&#8221; (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.[1]</p>
<p>Seni drama tradisional Mamanda ini sangat populer di kalangan masyarakat kalimantan pada umumnya. Bahkan, beberapa waktu silam seni lakon Mamanda rutin menghiasi layar kaca sebelum hadirnya saluran televisi swasta yang turut menyaingi acara televisi lokal. Tak heran kesenian ini sudah mulai jarang dipentaskan.</p>
<p>Dialog Mamanda lebih kepada improvisasi pemainnya. Sehingga spontanitas yang terjadi lebih segar tanpa ada naskah yang mengikat. Namun, alur cerita Mamanda masih tetap dikedepankan. Disini Mamanda dapat dimainkan dengan naskah yang utuh atau inti ceritanya saja.</p>
<p>Sekarang ini Mamanda mulai terpinggirkan oleh kesenian modern. Bahkan mungkin, hanya sedikit generasi muda yang tahu kesenian ini. Jika kesenian asli daerah seperti Mamanda tak lagi mendapat perhatian generasi muda, jangan heran nantinya benar-benar punah.</p>
<p>Modernisasi harusnya bukan memetikan kreatifitas kesenian ini. Jika ketoprak humor, wayang kulit tiga demensi, opera van java bisa meramu kesenian tradisional tetap mampu eksis dan diterima setiap geneerasi. Mamanda harus mulai berbenah diri, mengikuti perkembangan jaman. Tak harus meninggalkan pesan yang ingin disampaikan, namun inovasi ramuan penampilan harus mulai diracik agar tetap menjadi tontonan sekaligus tuntunan menghibur.</p>
<p>photo courtesy of: www.salendrobrahmono3.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/mamanda-perlu-inovasi-agar-tetap-bertahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Toleat, Masterpiece Anak Gembala</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/toleat-masterpiece-anak-gembala/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/toleat-masterpiece-anak-gembala/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2012 07:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budiana Yusuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>
		<category><![CDATA[alatmusik]]></category>
		<category><![CDATA[jawabarat]]></category>
		<category><![CDATA[toleat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=6224</guid>
		<description><![CDATA[Saya begitu terhanyut ketika pertama kali mendengar alunan suara alat musik tradisional ini. Alunan suaranya sedikit hampir mirip Saxophone, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya begitu terhanyut ketika pertama kali mendengar alunan suara alat musik tradisional ini. Alunan suaranya sedikit hampir mirip Saxophone, tak terlalu melengking seperti suling tetapi terdengar lebih lembut sehingga memberikan kesan ketenangan bagi siapapun yang mendengarnya. Nada yang ditimbulkannya bisa begitu harmonis mengikuti alat musik sunda yang lain, seperti celempung ataupun gembyung yang musiknya lebih dinamis.</p>
<p>Namanya toleat, sebuah alat musik tiup yang terbuat dari bambu mirip dengan suling, tapi nada yang dihasilkannya berbeda. Siapa sangka, alat musik ini merupakan <em>master piece</em> anak gembala di pantura Subang, Jawa Barat yang merupakan daerah pertanian yang luas.</p>
<p>Namanya Parman, awalnya beliau terinspirasi oleh mainan yang biasa dibuat anak-anak ketika menggembalakan ternak mereka disawah. Mainan yang berupa alat musik tiup tersebut mereka namakan sesuai bunyi yang ditimbulkannya, yaitu  “Empet-empetan” dan “Ole-olean”.</p>
<p>Ketika panen padi tiba, biasanya mereka membuat “Empet-empetan” dari potongan batang padi sisa panen. Sedangkan ketika musim padi usai , karena tidak ada batang padi maka mereka membuat alat musik lain, yaitu “Ole-olean” yang terbuat dari pelepah pohon papaya.</p>
<p>Karena bahan yang digunakan untuk membuat alat musik tersebut cepat rusak, kemudian Parman mencari bahan lain untuk membuatnya. Awalnya Parman menggunakan bahan dari ujung bambu dan lidahnya (peniupnya) terbuat dari kayu pohon berenuk yang dililit rotan.</p>
<p>Pada perkembangan selanjutnya Toleat dibuat dari bambu tamiang dan di beri lubang – lubang seperti halnya suling, sehingga menimbulkan banyak nada. Yang membedakannya dengan suling adalah bagian peniupnya yang terbuat dari kayu pohon berenuk.</p>
<p>Awalnya Toleat hanya berfungsi sebagai alat hiburan pribadi yaitu untuk mengusir jenuh ketika menggembalakan ternak. Tak ada lagu khusus yang dimainkan oleh anak gembala, hanya mengandalkan keunikan bunyi yang ditimbulkan dari alat musik tersebut.</p>
<p>Saat ini Toleat telah menjadi bagian dari seni pertunjukkan. Bukan hanya di Subang, tapi juga di  wilayah Jawa Barat bahkan pernah dipentaskan di manca negara. Alat musik ini dapat dengan harmonis dipadukan dengan alat musik tradisional yang lain seperti kacapi, gamelan, gembyung, karinding, celempung dan lain-lain. Bahkan bisa juga dimainkan bersama alat musik modern seperti keyboard bahkan orchestra sekalipun.</p>
<p>Alat musik yang merupakan <em>masterpiece</em> dari anak gembala ini telah menambah khasanah musik Indonesia. Tugas warga Indonesia untuk melestarikannya.</p>

<a href='/toleat-masterpiece-anak-gembala/toleat-subang-jawa-barat/' title='Toleat'><img width="150" height="150" src="/wp-content/uploads/2012/09/toleat-subang-jawa-barat-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="Toleat" title="Toleat" /></a>
<a href='/toleat-masterpiece-anak-gembala/img_13791/' title='IMG_13791'><img width="150" height="150" src="/wp-content/uploads/2012/09/IMG_13791-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="IMG_13791" title="IMG_13791" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/toleat-masterpiece-anak-gembala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenang Nortier Simanungkalit: Sang Maestro Hymne dan Mars</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/mengenang-nortier-simanungkalit-sang-maestro-hymne-dan-mars/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/mengenang-nortier-simanungkalit-sang-maestro-hymne-dan-mars/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2012 10:40:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dhahana Adi Pungkas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=5796</guid>
		<description><![CDATA[Anda masih ingat nada lagu Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) 1984 dan 1988 yang menjadi salah satu penanda jaman “indah”nya hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda masih ingat nada lagu Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) 1984 dan 1988 yang menjadi salah satu penanda jaman “indah”nya hidup di era 80-an? Jika masih ingat, apakah anda tahu siapa sosok cerdas di balik aransemen lagu “kenangan” tersebut. Yaa, beliau adalah Nortier Simanungkalit sang maestro hymne dan mars di Indonesia.</p>
<p>Komponis lulusan Pedagogi UGM di sepanjang hidupnya, telah menciptakan lebih dari 150 buah lagu yang seluruhnya berjenis mars dan hymne. Maestro musik kelahiran Tarutung, 17 Desember 1929 yang juga mantan Komandan Tentara Pelajar Sub Teritorial VII Sumatera Utara ini menekuni musik sejak berusia remaja. Karya pertamanya adalah sebuah lagu seriosa yang berjudul “Sekuntum Bunga”.  Sebanyak 268 komposisi telah dihasilkan oleh mantan anggota MPR RI periode 1987-1992 ini.</p>
<p>Karya2 beliau pun tak hanya mendapatkan apresiasi dari Pemerintah nasional namun hingga ke kancah dunia internasional, sebagai contoh pada tahun 1999, beliau mendapatkan medali jenis Special Recognition dari Palang Merah AS atas keberhasilannya menciptakan himne khusus untuk Palang Merah negeri Paman Sam tersebut. Jauh sebelum itu, beliau juga mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional dengan menjadi anggota kehormatan dalam International Music Council UNESCO, selama periode 1968-1981. Pada tahun 1972, beliau pernah menjadi juri dalam Festival Paduan Suara Mahasiswa Internasional di AS atas undangan Richard Nixon, Presiden AS kala itu.</p>
<p>Ada yang tak biasa dari seorang maestro satu ini, Bila biasanya seorang komposer membangun sebuah komposisi melalui alat musik yang dikuasainya, namun itu tak berlaku bagi komponis Mars Pemilu 2004 ini. Beliau lebih sering membayangkannya terlebih dulu, lalu mencoba merangkaikan nada-nada yang terlintas di atas kepala tersebut untuk dituangkannya dalam bentuk tulisan di atas kertas, kemudian untuk mendapatkan harmonisasi nya barulah beliau menggunakan jasa seorang pianis.</p>
<p>Dalam menciptakan sebuah lirik, beliau selalu memperhatikan keselarasan, dan filosofis yang terkandung di dalamnya. Melodi, harmoni, ritme dan timbre adalah unsur-unsur penting yang harus ada dalam setiap ciptaannya sehingga ciptaan itu dapat menjadi sebuah karya abadi yang dapat dikenang sepanjang masa. Dan, kisah manusia dengan segala kiprahnya tak ada yang kekal, komposer dari Hymne SEA GAMES tahun 1979 ini harus pergi selama2nya menghadap Sang Pemilik Hidup pada Hari Musik Nasional, 9 Maret 2012, pukul 14.40 di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, pada usia 82 tahun.</p>
<div id="attachment_5797" class="wp-caption aligncenter" style="width: 269px"><a href="/mengenang-nortier-simanungkalit-sang-maestro-hymne-dan-mars/nortier/" rel="attachment wp-att-5797"><img class="size-full wp-image-5797 " title="nortier" src="/wp-content/uploads/2012/08/nortier.jpg" alt="" width="259" height="362" /></a><p class="wp-caption-text">Nortier Simanungkalit</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/mengenang-nortier-simanungkalit-sang-maestro-hymne-dan-mars/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madihin Kesenian Kocak Penuh Kritikan</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/madihin-kesenian-kocak-penuh-kritikan/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/madihin-kesenian-kocak-penuh-kritikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2012 04:55:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=5960</guid>
		<description><![CDATA[Bagi anda yang belum mengenal kesenian Madihin asal Kalimantan Selatan, perlu mendengar kesenian yang bercorak pantun, penuh petuah, kritik dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi anda yang belum mengenal kesenian Madihin asal Kalimantan Selatan, perlu mendengar kesenian yang bercorak pantun, penuh petuah, kritik dan banyolan. Madihin (berasal dari kata madah dalam bahasa Arab yang berarti &#8220;nasihat&#8221;, tapi bisa juga berarti &#8220;pujian&#8221;) adalah sebuah genre puisi dari suku Banjar. Puisi rakyat anonim bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis Banjar di Kalsel saja.</p>
<p>Madihin merupakan pengembangan lebih lanjut dari pantun berkait. Setiap barisnya dibentuk dengan jumlah kata minimal 4 buah. Jumlah baris dalam satu baitnya minimal 4 baris. Pola formulaik persajakannya merujuk kepada pola sajak akhir vertikal a/a/a/a, a/a/b/b atau a/b/a/b. Semua baris dalam setiap baitnya berstatus isi (tidak ada yang berstatus sampiran sebagaimana halnya dalam pantun Banjar) dan semua baitnya saling berkaitan secara tematis.</p>
<p>Madihin merupakan genre/jenis puisi rakyat anonim berbahasa Banjar yang bertipe hiburan. Madihin dituturkan di depan publik dengan cara dihapalkan (tidak boleh membaca teks) oleh 1 orang, 2 orang, atau 4 orang seniman Madihin (bahasa Banjar Pamadihinan).</p>
<p>Madihin dituturkan sebagai hiburan rakyat untuk memeriahkan malam hiburan rakyat (bahasa Banjar (Bakarasmin) yang digelar dalam rangka memperintai hari-hari besar kenegaraan, kedaerahan, keagamaan, kampanye partai politik, khitanan, menghibur tamu agung, menyambut kelahiran anak, pasar malam, penyuluhan, perkawinan, pesta adat, pesta panen, saprah amal, upacara tolak bala, dan upacara adat membayar hajat (kaul, atau nazar).<br />
Orang yang menekuni profesi sebagai seniman penutur Madihin disebut Pamadihinan. Pamadihinan merupakan seniman penghibur rakyat yang bekerja mencari nafkah secara mandiri, baik secara perorangan maupun secara berkelompok.</p>
<p>Setidak-tidaknya ada 6 kriteria profesional yang harus dipenuhi oleh seorang Pamadihinan, yakni : (1) terampil dalam hal mengolah kata sesuai dengan tuntutan struktur bentuk fisik Madihin yang sudah dibakukan secara sterotipe, (2) terampil dalam hal mengolah tema dan amanat (bentuk mental) Madihin yang dituturkannya, (3) terampil dalam hal olah vokal ketika menuturkan Madihin secara hapalan (tanpa teks) di depan publik, (4) terampil dalam hal mengolah lagu ketika menuturkan Madihin, (5) terampil dalam hal mengolah musik penggiring penuturan Madihin (menabuh gendang Madihin), dan (6) terampil dalam hal mengatur keserasian penampilan ketika menuturkan Madihin di depan publik.</p>
<p>Dalam pergelaran madihin ada sebuah struktur yang sudah baku, yaitu:<br />
1. Pembukaan, dengan melagukan sampiran sebuah pantun yang diawali pukulan tarbang disebut pukulan pembuka. Sampiran pantun ini biasanya memberikan informasi awal tentang tema madihin yang akan dibawakan nantinya.<br />
2. Memasang tabi, yakni membawakan syair atau pantun yang isinya menghormati penonton, memberikan pengantar, ucapan terima kasih dan memohon maaf apabila ada kekeliruan dalam pergelaran nantinya.<br />
3. Menyampaikan isi (manguran), menyampaikan syair-syair yang isinya selaras dengan tema pergelaran atau sesuai yang diminta tuan rumah, sebelumnya disampaikan dulu sampiran pembukaan syair (mamacah bunga).<br />
4. Penutup, menyimpulkan apa maksud syair sambil menghormati penonton memohon pamit ditutup dengan pantun penutup.</p>
<p>Saat ini pemadihin yang terkenal di Kalimantan Selatan adalah John Tralala dan anaknya Hendra. Ayah-anak ini jika sudah bemadihin dipastikan semua pendengar bakalan ngakak tertawa. Keduanya mampu berbalas pantun sambil meledek satu sama lain. Bahkan ledekan/kritikan untuk pemerintah atau kejadian social semakin asyik terdengar lantaran dibalut dalam kekocakan para pemadihin. Walau kita bukan tulen orang banjar asli, beberapa kalimat pasti akan kita pahami, karena madihin tak hilang roh nya bila harus memadukan bahasa Indonesia dan banjar atau bahkan bahasa Indonesia saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/madihin-kesenian-kocak-penuh-kritikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuda Renggong, Ketika Kuda Menari Ronggeng</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/kuda-renggong-ketika-kuda-menari-ronggeng/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/kuda-renggong-ketika-kuda-menari-ronggeng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Aug 2012 02:26:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budiana Yusuf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=4792</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin kita sudah tidak asing menyaksikan sirkus dari luar negeri yang menggunakan hewan sebagai bintang utamanya. Tapi tahukah Anda di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin kita sudah tidak asing menyaksikan sirkus dari luar negeri yang menggunakan hewan sebagai bintang utamanya. Tapi tahukah Anda di Indonesia aksi “sirkus” tradisional menggunakan hewan tersebut sudah ada lebih dari 100 tahun yang lalu ?. Tepatnya di kota Sumedang, Jawa Barat kita bisa menyaksikan kuda – kuda yang terlatih menari bahkan beradu silat dengan diiringi musik tradisional layaknya pertunjukkan sirkus. Pertunjukkan itu dikenal dengan kesenian kuda renggong.</p>
<p>Kesenian ini sudah mulai dikenal sejak tahun 1880-an di Desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang. Dahulu kesenian ini dikenal dengan nama kuda igel yang artinya kuda yang menari, namun sekarang kesenian ini lebih dikenal dengan sebutan kuda renggong. Kata renggong merupakan metatesis dari kata “ronggeng” yaitu kamonesan atau keterampilan menari mengikuti irama musik.</p>
<p>Menurut sejarahnya kesenian ini tidak terlepas dari tokoh yang bernama Sipan yang mencoba melatih kuda miliknya yang diberi nama si Cengek dan si Dengkek untuk mengikuti gerakan yang diinginkannya. Setelah beberapa bulan dilatih akhirnya ia berhasil melatih kudanya tersebut hingga bisa “menari” diiringi alunan musik.</p>
<p>Keberhasilannya ini kemudian diketahui oleh Pangeran Aria Surya Atmadja yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Sumedang. Sang Bupati kemudian memerintahkan Sipan untuk melatih kuda-kudanya yang didatangkan langsung dari Pulau Sumbawa. Dari situlah kemudian kesenian ini semakin dikenal dan berkembang tidak hanya di Sumedang, tetapi kemudian berkembang juga di daerah sekitarnya.</p>
<p>Kesenian ini biasanya dimainkan pada acara khitanan anak. Anak yang telah dirias dengan pakaian wayang atau pakaian adat sunda dinaikan ke atas kuda renggong yang juga telah dihias dengan berbagai aksesoris warna – warni. Kemudian dengan diiringi tetabuhan sunda rombongan kuda renggong melakukan arak-arakan berkeliling kampung.</p>
<p>Dalam rombongan tersebut selain kuda dan penunggangnya biasanya terdiri dari pelatuk (pemimpin rombongan), beberapa orang pemain waditra (tetabuhan), sinden, beberapa pesilat dan diramaikan juga oleh warga masyarakat yang ikut menari bersama. Dalam arak-arakan tersebut biasanya para pesilat beraksi bersama kuda renggong mempersembahkan gerakan-gerakan yang atraktif seperti gerakan “perkelahian” antara kuda dengan pesilat.</p>
<p>Dalam perkembangannya kuda renggong tidak hanya dipentaskan dalam acara khitanan saja, sekarang kesenian yang sudah menjadi ciri khas kota Sumedang ini juga biasa dipentaskan dalam acara penyambutan tamu agung, pawai peringatan hari kemerdekaan dan berbagai acara lainnya.</p>
<p>Untuk menjaga kelestarian kesenian ini pemerintah daerah Sumedang setiap tahun menggelar acara festival kuda renggong. Festival kuda renggong ini diikuti oleh puluhan grup kesenian yang berasal dari seluruh penjuru Sumedang bahkan dari luar Sumedang. Dengan dilaksanakannya festival ini diharapkan terjadi peningkatan kualitas pertunjukan kuda renggong, baik dalam hal kreatifitas gerakan tarian, waditra, aksesoris yang digunakan, kekompakan dan sebagainya sehingga kesenian yang telah menjadi salah satu ikon wisata Jawa Barat ini semakin berkembang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/kuda-renggong-ketika-kuda-menari-ronggeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mandau Senjata Keramat Suku Dayak</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/mandau-senjata-keramat-suku-dayak/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/mandau-senjata-keramat-suku-dayak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2012 07:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=5261</guid>
		<description><![CDATA[Suku Dayak adalah suku yang gemar sekali berpetualang, sehingga untuk memberi kenyamanan dalam perjalanannya seorang putra dayak akan melengkapi dirinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suku Dayak adalah suku yang gemar sekali berpetualang, sehingga untuk memberi kenyamanan dalam perjalanannya seorang putra dayak akan melengkapi dirinya dengan senjata. Mandau adalah salah satu senjata suku Dayak yang merupakan pusaka turun temurun dan dianggap sebagai barang keramat.<br />
Di samping itu mandau juga merupakan alat untuk memotong dan menebas tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena nyaris sebagian besar kehidupan seharian orang Dayak berada di hutan, maka mandau selalu berada dan diikatkan pada pinggang mereka dalam keseharian.</p>
<p>Mandau bertatah, atau berukir dengan menggunakan emas, perak atau tembaga sedangkan ambang atau apang hanya terbuat dari besi biasa.Mandau atau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau dirawat dengan baik karena diyakini bahwa mandau memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi mereka dari serangan dan maksud jahat lawan.</p>
<p>Mandau selain dibuat dari besi batu gunung dan diukir, pulang atau hulu mandau yang biasa disebut pulang mandau juga dibuat berukir dengan menggunakan tanduk rusa untuk warna putih dan tanduk kerbau untuk warna hitam Namun dapat pula dibuat dengan menggunakan kayu kayamihing. Untuk memproses pembuatan pulang mandau dengan kayu kayamihing terlebih dahulu batang kayu yang akan digunakan tersebut direndam dalam tanah luncur yaitu tanah yang ditemukan di daerah pantai. Dibagian ujung pulang mandau diberi bulu binatang atau rambut manusia. Untuk merekatkan mandau dengan pulangnya digunakan getah kayu sambun yang telah terbukti daya rekatnya.</p>
<p>Setelah pulang dan mandau terikat dengan baik, baru kemudian diikat lagi dengan jangang. Kemampuan daya tahan jangang tidak perlu diragukan, namun apabila jangang sulit ditemukan dapat diganti dengan anyaman rotan.</p>
<p>Dibutuhkan kemampuan memilih bebatuan yang mengandung besi bila mengawali pekerjaan ini. Kemudian bebatuan yang terkumpul mereka masak dalam tumpukan ranting-ranting dan daun kering dengan menggunakan alat yang disebut puputan, hingga batu-batuan itu bernyala. Dalam keadaan bernyala, bebatuan dimasukkan ke dalam air, bebatuan mendidih di air, dan terurai. Butir-butiran besi yang dihasilkan diolah menjadi bahan pembuatan mandau. Besi mantikei sangat keras, tajam, dan elastis, juga mengandung bisa, disamping itu mahluk halus yang punya maksud jahat takut pada daya magis yang dimiliki oleh besi mantikei tersebut.</p>
<p>Membuat Mandau dengan besi mantikei prosesnya lebih mudah karena pemanasan cukup sekali saja, tidak perlu diulang-ulang. Setelah sekali dipanaskan, sekali dicelupkan ke dalam air, yang biasa disebut suhup lewa, besi mantikei tersebut dapat segera diproses menjadi bentuk mandau yang diinginkan.</p>
<p>Hingga sekarang Mandau masih mewarnai kehidupan suku-suku Dayak, baik untuk berburu ataupun untuk kegiatan sehari-hari. Sedangkan Mandau yang sering kali kita liat dipergunakan dalam seni tari, kebanyakan adalah Mandau Imitasi atau tiruan. Ha itu tak lain sebagai bentuk pelestarian pada budaya bangasa pada generasi selanjutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/mandau-senjata-keramat-suku-dayak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumpit Dayak Senjata Berburu Sekaligus Perang</title>
		<link>http://www.palingindonesia.com/sumpit-dayak-senjata-berburu-sekaligus-perang/</link>
		<comments>http://www.palingindonesia.com/sumpit-dayak-senjata-berburu-sekaligus-perang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2012 02:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>danang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Karya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.palingindonesia.com/?p=5208</guid>
		<description><![CDATA[Sumpit adalah salah satu senjata yang sering digunakan oleh suku Dayak. Selain untuk berburu, sumpit menjadi alat perang. Dari segi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumpit adalah salah satu senjata yang sering digunakan oleh suku Dayak. Selain untuk berburu, sumpit menjadi alat perang. Dari segi penggunaannya sumpit atau sipet ini memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami. Dan salah satu kelebihan dari sumpit atau sipet ini memiliki akurasi tembak yang dapat mencapai 218 yard atau sekitar 200 meter.</p>
<p>Dilihat dari bentuknya sumpit, sumpit memiliki bentuk yang bulat dan memiliki panjang antara 1,5-2 meter, berdiameter sekitar 2-3 sentimeter. Pada ujung sumpit ini diolah sasaran bidik seperti batok kecil seperti wajik yang berukuran 3-5 sentimeter. Pada bagian tengah dari sumpit dilubangi sebagai tempat masuknyadamek (anak sumpit). Pada bagian bagian atas sumpit lebih tepatnya pada bagian depan sasaran bidik dipasang sebuah tombak atau sangkoh (dalam bahasa Dayak). Sangkoh terbuat dari batu gunung yang lalu diikat dengan anyaman uei (rotan).</p>
<p>Jenis kayu yang biasanya digunakan untuk membuat sumpit pada umumnya adalah kayu tampang, kayu ulin atau tabalien, kayu plepek, dan kayu resak. Tak ketinggalan juga tamiang ataulamiang, yaitu sejenis bambu yang berukuran kecil, beruas panjang, keras, dan mengandung racun. Tidak semua orang memiliki keahlian dalam membuat sumpit atau sipet. Di Pulau Kalimantan saja hanya ada beberapa suku saja yang memiliki keahlian dalam pembuatan sumpit, yaitu suku Dayak Ot Danum, Punan, Apu Kayan, Bahau, Siang, dan suku Dayak Pasir.</p>
<p>Dalam proses pembuatan sumpit atau sipet dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama ketrampilan tangan dari sang pembuat. Cara kedua, yaitu dengan menggunakan tenaga dari alam dengan memanfaatkan kekuatan arus air riam yang dibuat menjadi semacam kincir penumbuk padi. Harga jual sumpit atau sipet telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar jipen ije atau due halamaung taheta.<br />
Menurut kepercayaan suku Dayak sumpit atau sipet ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau sipet hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti berburu. Sipet ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak-injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat.</p>
<p>Pada zaman penjajahan di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru. Yang membuat pihak penjajah gentar itu adalah anak sumpit yang beracun. Sebelum berangkat ke medan laga, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut damek.</p>
<p>Tanpa tahu keberadaan lawannya, tiba-tiba saja satu per satu serdadu Belanda terkapar, membuat sisa rekannya yang masih hidup lari terbirit-birit. Kalaupun sempat membalas dengan tembakan, dampak timah panas ternyata jauh tak seimbang dengan dahsyatnya anak sumpit beracun.</p>
<p>Tak sampai lima menit setelah tertancap anak sumpit pada bagian tubuh mana pun, para serdadu Belanda yang awalnya kejang-kajang akan tewas. Bahkan, bisa jadi dalam hitungan detik mereka sudah tak bernyawa. Sementara, jika prajurit Dayak tertembak dan bukan pada bagian yang penting, peluru tinggal dikeluarkan. Setelah dirawat beberapa minggu, mereka pun siap berperang kembali. Perjuangan anak negeri Dayak melawan penjajah Belanda ternyata tak kalah heroiknya dengan pejuang yang konon menggunakan bambu runcing untuk memerdekan negeri Indonesia. Sumpit menjadi salah satu senjata khas yang mampu menjadi bagian sejarah tak terlupakan. Sehingga saat ini, ketrampilan menyumpit menjadi olah raga yang populer di wilayah Kalimantan.</p>
<p>photo courtesy of <a href="http://www.flickr.com/photos/samarindabox/">http://www.flickr.com/photos/samarindabox/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.palingindonesia.com/sumpit-dayak-senjata-berburu-sekaligus-perang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
